Minggu, 11 Juli 2021

PJJ Jilid 2, Apa Kabar?

Latar Belakang

    Tahun ajaran baru, tinggal beberapa minggu lagi. Namun pelaksaanaan PTM atau Pembelajaran Tatap Muka, untuk sementara  tetap ditiadakan. Dengan adanya INMENDAGRI No 15 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali. SK Gubernur Jatim no 188/379/KPTS/013/2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat di Jawa Timur. Sehubungan dengan hal tersebut Pemerintah Kabupaten/Kota se-Jatim agar melakukan penyesuaian terhadap Proses Belajar Mengajar TP 2021-2022. PBM   pada Kabupaten/Kota yang ditetapkan sebagai PPKM Level 4 dan Level 3 dilaksanakan sepenuhnya  dengan Metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR). Hal ini disebabkan  alasan virus Corona yang terus menaik. Apalagi dengan datangnya varian delta yang cepat menular. Hanya dengan satu ruangan saja bersama penderita, sudah dapat tertular. Pastinya ini akan membuat proses kegiatan belajar mengajar, menjadi terganjal lagi.

    Dengan adanya wabah itu, kita mulai serentak belajar lewat gawai. Belum lagi, mulai merebaknya perasaan bosan di rumah yang telah dilakukan setahun lebih. Kebosanan ini terbit ke permukaan, disebabkan beberapa faktor. Faktor yang utama adalah soal pemahaman. Meskipun gadget-nya mudah digunakan, namun interaksi secara nyata dan langsung, terasa berbeda. Mereka merasa ada sekat, berupa ruang dan waktu. Belum lagi, tidak adanya kesepakatan bersama yang dipatuhi. Kita tahu infrastruktur telekomunikasi belum merata dan jaringannya masih dianggap kurang mendukung. Maka yang terjadi di lapangan, sering kesulitan mengakses. Sehingga banyak waktu yang terbuang percuma. Yang perlu kita ingat, seberapa efektifkah belajar melalui daring itu?

 

Mengenal Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)

    Metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebenarnya sudah ada jauh sebelum Pandemi Covid 19 melanda. Misalnya di negara Amerika Serikat yang telah melakukan metode ini sejak tahun 1892. Dimana pada waktu itu Universitas Chicago meluncurkan sistem pembelajaran jarak jauh yang pertama. Sejak saat itu metode PJJ terus dikembangkan dengan menggunakan beragam teknologi, mulai dari radio, televisi hingga teknologi internet. 

    PJJ merupakan metode dimana peserta didik dengan pengajar berada di lokasi yang berbeda, tanpa ruang kelas secara fisik, dengan menggunakan beragam teknologi komunikasi dan informasi termasuk radio, televisi, satelit, dan internet, sehingga diperlukan sistem telekomunikasi yang interaktif untuk dapat terhubung satu dengan lainnya. Peran teknologi sangatlah dibutuhkan, mengingat pembelajaran dilakukan secara daring atau online. PJJ sekaramg bukan hanya digunakan mahasiswa di tingkat perguruan tinggi, namun juga siswa sekolah menengah atas, menengah pertama bahkan siswa sekolah dasar.

    Saat terjadi Pandemi Covid-19, maka kementerian pendidikan dan kebudayaan memberikan kebijakan untuk melaksanakan metode PJJ. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat diadopsi menjadi permanen. Permanen dalam arti kata PJJ tetap digunakan meskipun pandemi sudah berakhir namun prosentase hanya sedikit, misal 10 persen online dan 90 persen tatap muka, itu juga tergantung kebijakan dari sekolah masing-masing.   

    Berbagai alternatif yang dapat dipilih oleh sekolah sebagai media pembelajaran online di antaranya, e-learning, aplikasi zoom, Google Classroom, dll. Sarana tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, sebagai media. Dengan pemanfaatan media daring tersebut. Tentunya secara tidak langsung penggunaan akses teknologi semakin dikuasai oleh peserta didik ataupun guru. Namun sebaliknya, tidak sedikit pula muncul permasalahan tentang gagapnya dalam mengakses teknologi tersebut atau yang biasa kita kenal dengan Gaptek (Gagap Teknologi).

 

Refleksi Setelah Setahun Melaksanakan PJJ

    Kita tahu infrastruktur telekomunikasi di negara kita belum merata dan jaringannya masih dianggap kurang mendukung. Maka yang terjadi di lapangan, sering kesulitan mengakses. Sehingga banyak waktu yang terbuang percuma. Belum lagi pembelajaran daring atau online yang sudah setahun lebih dilaksanakan dan tanpa kita sadari mulai merebaknya perasaan bosan di rumah terus. Kebosanan ini terbit ke permukaan, disebabkan beberapa faktor. Faktor pertama  adalah soal pemahaman. Meskipun gadget-nya mudah digunakan, namun interaksi secara nyata dan langsung, terasa berbeda. Mereka merasa ada sekat, berupa ruang dan waktu. Belum lagi, tidak adanya kesepakatan bersama yang dipatuhi. Siswa yang kita ajar setahun yang lalu belum tahu karakter siswa satu persatu sudah naik ke kelas jenjang berikutnya, karena tidak ada tatap muka. Tidak banyak guru, yang mampu "memaksa" siswanya untuk berdisiplin, seperti saat kelas berbasis video conference, zoom meeting ataupun Google Meet. Karena siswa bisa punya banyak dalih. Dari baterai habis, sinyalnya tak ada, ponsel error, tidak ada  kuota sampai HP pinjam orang tuanya. Tentu hal ini berdampak pada proses penyerapan dan pengertian pada siswa.

    Faktor berikutnya adalah keluarga. Latar belakang pendidikan orang tua siswa juga tidak sama atau beragam. Banyak anak yang curhat, saat belajar bersama orangtuanya  atau anggota keluarga lainnya, mengalami ketertekanan dan kurang pemahaman  Ketertekanan timbul, karena setiap ada hal yang kurang dipahami malah terkadang malah mendapat marah, bukan diajari supaya bisa. Jika tidak maka , yang terbit adalah perkataan seperti ini, "Wah, ayah dan ibu tak tahu. Coba cari saja di searching di Google saja!" Akibatnya akan menggerutu lantas berkata , " Lha  Google  kan bukan manusia. Dia hanya mesin. Meski terlihat Google pintar luar biasa seperti bank data. Dia tak punya emosi, tak punya ekspresi." Tanpa kita sadari kita lepas tanggung jawab sebagai orangtua yang tugasnya mendidik dan mendampingi anak belajar di rumah. 

    Faktor ketiga, ini berhubungan dengan faktor yang kedua tadi. Si anak dunia bermain serta bersosialisasi  yang selayaknya dia peroleh di sekolah terasa kurang, Mereka merasa tidak punya teman yang seperti biasanya. Anak merasa temannya hanyalah HP/Android, kalau tidak, ya laptop. Anak merasa pula seperti robot dan rasa peduli  lingkungan juga kurang cenderung menjadi individualis. Anak merasa kebahagiaannya seusianya yang harus dinikmati saat itu akan terenggut. Perjumpaan dengan teman-teman "sebenarnya", tidak ada. Anak merasa hari-harinya jenuh dan membosankan. Padahal dengan Pembelajaran Tatap Muka (offline) sesuatu yang menyenangkan. Dengan teman, bisa berbagi banyak hal, mengobrol, bermain, bahkan makan bersama. Masa bermain mereka hilang asyik bermain dengan gadgetnya sepanjang hari. Mereka lebih banyak waktu di rumah dan bergaul dengan lingkungan dimana mereka tinggal atau bahkan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

    Hal-hal inilah yang menyebabkan kekhawatiran. Kekhawatiran akan timbulnya generasi yang hilang (lost generation). Anak-anak kelak mungkin kesulitan untuk peduli pada sekitarnya (hingga nihil empati). Atau kurang peduli dengan lingkungannya. Dan tak punya bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupan. Jika ini terjadi, jelas peradaban bangsa kita ke depan akan runtuh. Nama bangsa kita, tinggal menjadi "puing-puing" masa lalu. Sesuatu yang sungguh tidak kita harapkan.

 

Alternatif Pembelajaran dalam PJJ Tahap 2

    Pembelajaran Jarak Jauh untuk tahun ajaran baru tetap diberlakukan, maka diperlukan langkah-langkah yang strategis dan tepat sasaran. Sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap terasa menyenangkan bagi peserta didik. Dan dapat dipadu dengan sistem blended learning tiap bulan, bila memungkinkan. Biar pembelajaran tersebut, tidak terlalu bikin jenuh. Penulis menyampaikan beberapa alternatif pembelajaran dengan jenis Blanded Learning sering digunakan dalam pembelajaran mahasiswa. Apa salahnya jika dari jenis model pembelajaran ini kita terapkan pada siswa.

    Sistem Pembelajaran Perkembangan model blended learning yang akhir-akhir ini semakin pesat tidak hanya meningkatkan fleksibilitas dan individualisasi pengalaman belajar pelajar atau mahasiswa, tetapi juga memungkinkan pengajar untuk mengefektifkan waktu yang mereka habiskan sebagai fasilitator pembelajaran. Ada beberapa jenis model Blanded Learning yang lebih sering digunakan, yaitu :

1) Station Rotation Blended Learning

2) Lab Rotation Blended Learning

3) Remote Blended Learning atau Enriched Virtual 

4) Flex Blended Learning

5) The ‘Flipped Classroom’ Blended Learning 

6) Individual Rotation Blended Learning.

    Jenis model pembelajaran blended learning yang bisa kita jadikan alternatif dalam Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19.

    Awal pembelajaran daring/online sebagian orang tua agak ketat mengawasi penggunaan HP untuk memproteksi agar anaknya tidak kecanduan games sehingga ada pembatasan menggunakan alat komunikasi tersebut, namun kini karena pembelajaran moda daring "terpaksa" orang tua membiarkan anaknya menggunakan HP/Android yang serba bisa ini dengan alasan Zoom Meeting, Google Meet, Goole Class Room (GCR) atau Searching Google dll dan disela-sela waktu dipakai untuk main game, alhasil ngegame nya lebih panjang daripada searchingnya, bahkan hingga larut malam, besoknya molor tidak lagi ngezoom, tidak lagi ngirim tugas di GC dst. Games dan berselancar di dunia maya menjadi makanan setiap harinya hingga  menjelang tidurnya. Sebagai pendidik semua ini akan menjadi bahan evaluasi selama Pandemi Covid-19. Fenomena seperti ini bisa saja terjadi di sekitar kita dan kita tidak bisa menutup mata begitu saja. Semoga Pandemi Covid-19 cepat berlalu, serta pembelajaran normal kembali.

 

Daftar Pustaka

1. http://educhannel.id/blog/artikel/pengertian-blended-learning.html

2. https://www.raharja.ic.id/2020/11/17/apa_itu_pembelajaran_jarakjauh/

3. https://sevima.com/jenis-blended-learning/

4. https://www.stit-alkifayahriau.ac.id/kendala-pembelajaran-jarak-jauh-dan-solusinya/